Dedicating: Dream

Tulisan ke-65 ini untuk mimpi.

Tadi malam, ruang televisi berubah. Dulu sofa panjang depan dinding, mata lurus layar hitam. Ruang kotak langit-langit rendah pintu geser transparan menuju hutan. Tadi malam, delapan kursi dan meja kecil berpasangan. Acak. Tersebar. Seperti kafe, duduk berdua-dua, tapi dalam rumah. Ingin ada wangi kopi tapi cuma saus tiram yang tercium. Ada pria membaca koran. Menghadap hutan. Ke mana matanya tertuju aku tak tahu. Huruf padat, atau pohon belantara. Tangannya terbentang.

Aku seperti kamera CCTV. Sorot atas, statis.

Tadi malam, dapur tak berubah. Hanya, ada dua pasang kursi dan meja di antara kulkas dan mesin cucipiring. Tatanya canggung sekali. Karton coklat bersender di samping sekat. Tapi tadi malam, aku hanya lensa biasa.

Mana kehidupanmu. Ruang ini ramai dengan debu. Partikel perhentian. Kaki-kaki dingin. Bantal sofa hilang. Teater berlensa. Hingga pagi, hutan dan layar hitam terdiam.

Lalu aku menjadi lampu taman. Sorot bawah, hidup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s